Talian Infodinamika: Merawat Aset, Mengubah Kultur

By on April 6, 2015

Ada sebuah cerita tentang pabrik otomotif di Indonesia yang memproduksi 1500 mobil per harinya. Selama setahun, pabrik mobil tersebut mengaku hanya berhenti berproduksi selama empat hari karena berbagai sebab. Sekilas, empat hari memang terasa sedikit. Namun jika dihitung, berarti pabrik tersebut kehilangan kesempatan memproduksi 6000 mobil selama produksinya berhenti. Jika diasumsikan satu mobil berharga Rp.100 juta, sudah terbayang potensi kehilangan yang harus dihadapi.

Kisah itu diungkapkan Seno Hardijanto, CEO sekaligus pendiri Talian Infodinamika. “Itulah yang dalam tulisan [yang saya buat] saya sebut hidden-factory,” tambah Seno. Akibat berbagai masalah, sebuah perusahaan kehilangan potensi pendapatan yang nilainya cukup besar; bahkan bisa digunakan untuk membangun pabrik baru. Padahal jika pabrik tersebut memiliki sistem pengelolaan aset yang memadai, potensi kerugian bisa diminimalisir. “Jika kita bisa saving 5% saja, itu sudah angka yang besar juga,” tambah Seno.

Seno menceritakan kisah tersebut saat menjelaskan mengenai Enterprise Asset Management (EAM) yang menjadi solusi andalan Talian. “EAM itu adalah software yang digunakan untuk mengelola aset,” ungkap Seno. Setiap perusahaan pasti ingin aset yang mereka miliki memiliki umur yang panjang, biaya operasi rendah, compliance terhadap regulasi, serta ramah lingkungan. Untuk mencapai itu, dibutuhkan sistem yang membantu perusahaan merawat aset tersebut.

“Kalau punya mobil, kita ingat harus ganti oli lima ribu kilometer sekali,” ungkap Seno. Tapi jika berbicara sebuah pembangkit listrik yang memiliki ratusan turbin, misalnya, dibutuhkan sistem yang mengatur perawatan tersebut. Di sinilah fungsi EAM, yaitu membakukan prosedur pengelolaan aset yang dimiliki perusahaan. Lingkup solusi EAM juga menyangkut pengadaan suku cadang yang bagi banyak perusahaan sangat krusial. “Karena kita pesan hari ini, spare part-nya baru datang tiga bulan lagi,” tambah Seno.

Dalam konteks EAM, Talian berfungsi sebagai implementer software EAM (dalam hal ini IBM Maximo) serta membuat prosedur kerja. “Misalnya melaporkan kerusakan kerja gimana, melakukan prosedur maintenance gimana, dan seterusnya,” tambah Seno. Semua data itu kemudian dapat dianalisa sehingga perusahaan bisa mengetahui secara persis hambatan yang terjadi. “Manajemen bisa tahu ternyata beli suku cadang negara A lebih awet dibanding negara B,” tambah Seno mencontohkan.

Karena EAM terkait cara kerja, tantangan Talian memang tidak cuma soal teknologi. “Membuat sistem itu kan terkait prosedur, teknologi, dan people. Nah masalah people ini yang rumit,” ungkap Seno ambil tertawa. Seno harus menghadapi karakter yang berbeda ketika menghadapi klien dari berbagai negara. “Kalau orang Barat, mereka senang menulis, jadi semua sistematis,” ungkap Seno. Sedangkan orang Indonesia cenderung berkata iya meski hatinya mengatakan tidak.

Sejarah Talian

Talian Infodinamika sendiri berdiri sejak tahun 2010. Seno mendirikan Talian berdasarkan pengalamannya melalang buana dan melihat peluang EAM untuk tenaga kerja Indonesia. “Tahun 2008 saya mendirikan perusahaan di Inggris dan mendapatkan beberapa proyek di sana dan juga Afrika Utara,” cerita pria kelahiran Sragen ini. Ia melihat banyak perusahaan di Inggris, Skotlandia, Afrika, dan Timur Tengah yang membutuhkan solusi EAM.

talian2

Melihat peluang itu, Seno mengundang teman-temannya di Indonesia untuk memanfaatkan peluang tersebut. “Tapi saya tidak dapat orang yang bisa EAM dan mau pindah ke Inggris,” ungkap Seno. Ia justru mendapatkan tenaga kerja dari India.

Alasan itulah yang mendorong Seno untuk pulang ke Indonesia dan mendirikan Talian. “Cita-cita pertama saya adalah memiliki resource pool di Indonesia yang kemudian bisa ‘diedarkan’ ke berbagai negara,” ungkap Seno.

Karena itulah sejak awal, Talian fokus mengumpulkan talenta di tanah air. Seno mencari tenaga kerja yang mayoritas memiliki latar belakang IT dan teknik industri untuk dididik.

Kini, mimpi Seno mulai terwujud. Timnya terdiri dari 25 orang yang telah mengantongi sertifikasi di bidang EAM. Klien Talian menyebar di berbagai negara, seperti Australia, Selandia Baru, dan Afrika. Sedangkan di Indonesia, Talian adalah implementer Maximo terbesar di Indonesia, dengan klien berasal dari industri pembangkit listrik, otomotif, dan perminyakan.

Namun Seno mengaku kebanyakan klien Talian di Indonesia adalah perusahaan multinasional. Hal ini terkait belum banyaknya perusahaan lokal yang memahami pentingnya penerapan sistem kerja berbasis EAM. “Ada beberapa perusahaan lokal yang menggunakan EAM, tapi masih sedikit,” ungkap Seno. Faktornya penyebabnya banyak, termasuk masih minimnya kultur merawat di bangsa kita. “Tantangan memasarkan EAM tidak cuma hanya menjual produk IT, namun juga melakukan edukasi,” tambah Seno.

Selain menjadi implementer Maximo, Talian juga menawarkan solusi Dassault Systemes (desain 3D) dan Anthea (penjadwalan). Yang terakhir terbilang istimewa karena merupakan software buatan Seno sendiri. “Sewaktu saya masih di Inggris, ada rekan saya yang ingin dibuatkan software penjadwalan perjalanan helikopter,” ujar Seno menceritakan awal Anthea. Rekannya tersebut melayani transportasi menggunakan helikopter ke beberapa rig lepas pantai, dan membutuhkan software yang bisa mengkalkulasi jadwal paling efisien dari semua rencana penerbangan.

Seno pun mencoba membantu dengan membuat software sederhana berbasis Excel. Ternyata, solusi itu dianggap efektif. Ketika kembali ke Indonesia, Seno pun semakin serius mengembangkan software tersebut di atas platform Maximo yang kemudian dinamakan Anthea. “Namanya diambil dari kata ant karena algoritmanya terinsiprasi dari kerja semut,” cerita Seno.

Berkat Anthea, perusahaan transportasi tersebut mengaku berhasil menghemat sampai tiga juta dollar per tahun. Dua perusahaan Perancis juga sudah menyatakan ketertarikannya menggunakan Anthea. Anthea juga mendapat penghargaan Anugerah Rintisan Teknologi dari Departemen Perindustrian.

Tak heran ketika ditanya visi besar apa yang masih ia kejar, Seno menunjuk pengembangan Anthea. “Tahun lalu sudah tersedia Anthea untuk transportasi laut, dan tahun ini untuk transportasi darat,” tambah lulusan Ilmu Komputer ITS ini.

Dengan visi pemerintahan baru yang berorientasi pada pengembangan infrastruktur, akan semakin banyak perusahaan yang mengandalkan aset. Karena itu, Seno yakin peluang Talian ke depan akan semakin besar. Namun yang tak kalah penting, Talian juga bisa menjadi bagian dari perubahan kultur bangsa ini untuk selalu merawat aset yang dimiliki.

Sumber: http://www.infokomputer.com/2015/03/profil/talian-infodinamika-merawat-aset-mengubah-kultur/

About Bingki Parmaza

Leave a Reply