Kebocoran Data Jadi PR Perusahaan

By on April 5, 2015

Tajuk utama media terkait isu keamanan informasi dihiasi oleh berita tentang kebocoran data. Sebut saja Sony Pictures. Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang industri film tersebut harus menanggung kerugian reputasi dan finansial akibat kebocoran data akibat diretasnya sistem keamanan mereka oleh hacker yang diduga kuat berasal dari Korea Utara.

Pada pertengahan Februari yang lalu, perusahaan asuransi terbesar di AS yaitu Anthem terpaksa harus menanggung kerugian dengan bocornya 80 juta informasi nasabah akibat kejahatan siber. Tidak itu saja, JP Morgan pun sebagai salah perusahaan investasi harus mengalami hal yang sama ketika 75 juta informasi properti dan 7 juta data tentang perusahaan menengah yang dikelolanya harus hilang akibat dicuri oleh hacker.

Berita terakhir yang mencuat adalah Premera Blue Cross harus mengalami nasib yang sama seperti Anthem di mana 11 juta informasi nasabah asuransinya tercuri dalam sebuah serangan siber. Kebocoran data menjadi isu dan masalah yang harus dipecahkan oleh banyak perusahaan.

Saat ini, serangan siber menjadi semakin masif dan intens. Para penyerang kini tidak lagi menargetkan sektor perbankan sebagai salah satu target empuk mereka. Hampir semua sektor mengalami hal yang sama. Sektor industri terancam kebocoran data dan bahkan lumpuhnya sistem bisnis mereka jika diserang oleh peretas. Contohnya adalah salah satu perusahaan pengolah baja di Jerman lumpuh akibat serangan siber. Terakhir, hacker menargetkan sektor asuransi sebagai salah satu ladang emas mereka.

Isu kebocoran data ini tetap menjadi sebuah daya tarik bagi media untuk diangkat. Kebocoran data selalu berakibat pada berbagai macam risiko. Salah satunya adalah risiko reputasi. Jika kita googling dengan memasukan kata kunci data breach atau kebocoran data, laman Google akan dihiasi oleh berita tentang perusahaan besar yang harus menanggung kerugian akibat kebocoran data. Uniknya, hampir semua berita yang menghiasi laman Google itu akan disajikan dengan berita terkini dan bukan isu yang lama.

Maraknya isu kebocoran data tidak terlepas dari munculnya kejahatan fraud pasca bobolnya sistem keamanan perusahaan. Berdasarkan penelitian, 1 dari 3 orang yang mengalami kejahatan fraud umumnya berhasil diperdaya oleh fraudster yang mencuri data sensitif dari sebuah sistem perusahaan. Terlebih lagi, hasil investigasi penegak hukum dalam kasus kebocoran data membutuhkan waktu enam bulan lamanya dan 200 jam penyelidikan.

Source : www.ciso.co.id

About Bingki Parmaza

Leave a Reply