Edo Kurniawan: IT as a Competitive Advantage bagi DHL Indonesia

By on April 6, 2015

Secara prinsip, urusan kirim-mengirim barang memang sederhana. Jemput barang dari pengirim, antarkan ke alamat tujuan, dan serahkan kepada penerima. Tapi, pada praktiknya, tidak semudah itu. Terlebih pada pengiriman barang ke mancanegara.

Berbincang dengan Edo Kurniawan (Business IT Director, DHL Express Indonesia), kami menjadi paham kerumitan yang terjadi di balik layar perusahaan jasa kurir internasional ini.

Contohnya, dalam pengiriman barang dari Jakarta ke Amerika Serikat. Dari Jakarta, barang harus diterbangkan ke Singapura (hub DHL untuk Asia Tenggara), lalu ke Hongkong (hub DHL untuk Asia), baru ke Cincinnati (hub DHL untuk Amerika Serikat).

Di setiap hub, barang mesti disortir otomatis di atas conveyor belt untuk diarahkan sesuai tujuan masing-masing. Kemudian, DHL harus menentukan rute penerbangan yang paling optimal. Belum lagi urusan clearance di bea cukai dan real time monitoring & tracking.

Semua demi satu tujuan: memastikan barang sampai di tangan penerima dalam jangka waktu yang telah dijanjikan kepada pelanggan.

“Yang kami jual di DHL adalah the best transit time, jangka waktu dari barang di-pickup [di pengirim] sampai di-deliver [ke penerima] yang lebih cepat dibandingkan kompetitor. Kalau sekadar mengirim barang tanpa batas waktu yang pasti, semua perusahaan juga bisa,” tukas Edo. Tujuan itu tidak mungkin tercapai tanpa bantuan TI. Inilah yang disebut Edo sebagai IT as competitive advantage bagi DHL dan lebih dari sekadar business enabler.

DHL percaya bahwa TI merupakan kunci pendukung “Big Yellow Machine”, jargon yang disematkan pada jaringan operasional DHL di seluruh dunia. Untuk itu, mereka menjalankan sejumlah inisiatif TI. Salah satunya konvergensi sistem informasi secara global yang dimulai sejak 2010.

Sebelumnya, setiap negara memiliki sistem berbeda-beda yang tidak saling “berbicara” dengan baik antara satu dan lainnya. Hal ini sangat menyulitkan perusahaan untuk memberi respons cepat terhadap kondisi persaingan bisnis yang ada. Sekarang, tingkat konvergensi DHL di Asia Pasifik sudah mencapai sekitar 80%. Misalnya, aplikasi clearance, customer service, dan ground operations (operasional armada kurir) kini sudah seragam di banyak negara.

Tidak bisa dimungkiri bahwa proyek konvergensi ini menemui beberapa hambatan, terutama dari sisi kesesuaian terhadap peraturan lokal. Walhasil, Edo dan timnya harus menyediakan aplikasi tambahan yang memenuhi kebutuhan lokal sambil menunggu versi baru dari aplikasi global yang mencakup kapabilitas yang mereka mau.

“Sulitnya, keduanya [aplikasi lokal dan global] harus jalan bareng. Aplikasi lokal sebagai short term solution, sementara kami harus terus mendorong agar feature lokal ini bisa dimasukkan ke dalam platform global,” ujar pria bergelar Master Teknologi Informasi dari Universitas Indonesia ini.

Mengikuti Passion

Sebelum bergabung di DHL Express Indonesia pada tahun 2013, Edo menghabiskan dua belas tahun kariernya di industri food & beverage. Apa yang membuatnya berani beralih dari zona nyaman tersebut?

“Alasan terpenting bagi saya, kalau pindah [ke tempat baru], harus ada nilai tambah bagi saya. TI di industri logistik benar-benar terintegrasi erat dengan bisnis. When our IT is down, operational is down. Tantangannya berbeda. Saya harus belajar lagi dari awal. So, it’s fun,” ia menjawab.

Selain memiliki passion terhadap teknologi, Edo sangat tertarik pada coaching. Edo pernah menjajal posisi sebagai implementor ERP, business analyst, programmer, system & database administrator, network, dan cabling, sebelum akhirnya memilih berkonsentrasi di bidang manajemen TI. Di bidang ini, ia bisa menularkan ilmu dan wawasannya kepada orang lain.

Di samping itu, Edo merupakan pehobi fotografi lanskap alam dan travelling. “Salah satu mimpi saya adalah memajukan pariwisata Indonesia melalui fotografi dan penggunaan teknologi informasi sebagai referensi perjalanan,” ungkapnya.

Menurut Edo, Indonesia mempunyai banyak objek wisata alam yang sebetulnya jauh lebih indah daripada negara-negara tetangga. Ia percaya, dengan foto-foto yang indah, turis domestik dan mancanegara akan semakin tertarik untuk datang ke Indonesia. Photography as competitive advantage? Bisa jadi.

About Bingki Parmaza

Leave a Reply